Tren “Bleisure” Makin Nge trend: Liburan Sambil Kerja, Cara Baru Nikmati Cuti Tanpa Takut Dosa

Tren "Bleisure" Makin Nge trend: Liburan Sambil Kerja, Cara Baru Nikmati Cuti Tanpa Takut Dosa

Gue punya kenangan buruk soal liburan.

Tahun 2023, gue ambil cuti seminggu ke Bali. Niatnya mau healing total. Matiin notifikasi. Nggak bawa laptop. Santai di pantai.

Hari pertama? Enak. Hari kedua? Mulai gelisah. Hari ketiga? Nggak tahan, gue buka HP. Eh, 47 email belum dibaca. 12 chat urgent dari atasan. 3 revisi deadline besok.

Gue panik. Habiskan sisa liburan di kamar hotel, laptop terbuka, sambil sesekali liat pantai dari jendela. Pulang-pulang, gue lebih capek daripada sebelum liburan.

Itu namanya liburan? Bukan. Itu siksaan.

Tapi tahun 2026, ada cara baru. Cara yang bikin gue mikir, “Kenapa nggak dari dulu?”

Namanya: [Keyword Utama: Tren “Bleisure” Makin Ngetrend].


Apa Itu Bleisure?

Bleisure adalah gabungan dari Business dan Leisure. Konsepnya sederhana: lo memperpanjang perjalanan dinas dengan liburan, atau lo kerja ringan selama liburan, sehingga dua dunia ini nggak bentrok, tapi berjalan beriringan.

Bedanya sama workation?

Workation itu biasanya lo kerja full di tempat liburan. Kantor pindah ke pantai. Tapi tetep aja lo kerja. Bleisure lebih fleksibel. Lo atur sendiri: pagi kerja, siang liburan. Atau hari ini kerja, besok libur total. Atau bahkan… kerja sambil liburan tanpa sadar lagi kerja.

Iya, bagian terakhir itu yang jadi seni.

Data fiktif dari Remote Work Institute (2026) nyebutin: 67% pekerja kantoran di kota besar udah pernah coba bleisure dalam setahun terakhir. Dari jumlah itu, 58% mengaku lebih puas dengan work-life balance mereka. Dan yang menarik: 43% bilang mereka jadi lebih produktif saat bleisure dibanding di kantor.

Kok bisa? Karena otak dikelabui.


Seni Menipu Otak: Kerja Tanpa Rasa Kerja

Coba lo bayangin.

Lo kerja di kantor. Meja sempit. AC nyetel terlalu dingin. Lampu neon nyala terus. Jam dinding ngalir lambat banget. Setiap menit serasa jam.

Sekarang lo bayangin kerja di kafe pinggir pantai. Suara ombak. Angin sepoi. Sambil sesekali liat sunset. Lo ngerjain laporan yang sama, tapi rasanya… ringan. Nggak berat.

Itulah trik bleisure.

Otak kita nggak bisa membedakan secara sempurna antara “kerja” dan “liburan” kalau lingkungannya mendukung. Kalau lo kerja sambil dengerin ombak, otak lo ngira lo lagi santai. Padahal lo lagi bikin laporan.

Ini bukan tipu-tipu. Ini neuroscience.

Gue ngobrol sama psikolog kerja, Ibu Rani (fiktif). Katanya:

“Stres kerja itu nggak selalu datang dari tugasnya sendiri, tapi dari lingkungan tempat tugas itu dikerjakan. Meja kantor yang monoton, atasan yang ngawasin, jam kerja kaku—itu semua bikin otak terprogram ‘ini kerja, ini berat’. Tapi kalau lo kerja di tempat baru, dengan pemandangan indah, tanpa ada yang ngawasin, otak lo lebih rileks. Produktivitas bisa naik.”

Nah, bleisure memanfaatkan itu.


3 Cerita: Mereka yang Jago “Menipu” Otak

1. Dimas (34 tahun): 2 Minggu di Yogya, Kerja Cuma 3 Jam Sehari

Dimas kerja sebagai digital marketer. Deadline terus. Stress level tinggi. Setahun terakhir, dia nggak pernah ambil cuti beneran karena takut kerjaan numpuk.

Tahun ini, dia coba sesuatu. Ambil cuti 2 minggu, tapi nggak ke luar negeri. Dia sewa kamar di Yogya, dekat Malioboro. Bawa laptop, tapi janji sama diri sendiri: kerja maksimal 3 jam sehari.

“Gue atur waktunya. Pagi jam 7-10 itu gue kerja. Abis itu, bebas. Jalan kaki, kulineran, ke candi, ketemu temen. Malamnya kadang buka laptop lagi 1 jam kalau ada urgent, tapi jarang.”

Hasilnya? Semua deadline terpenuhi. Kerjaan beres. Tapi yang lebih penting: Dimas pulang dengan perasaan refreshed. Bukan kayak dulu, yang liburan tapi stres.

“Gue sadar, selama ini gue kerja 8 jam sehari tapi efektifnya cuma 2-3 jam. Sisanya ngelamun, ngopi, scroll medsos. Nah di Yogya, 3 jam itu bener-bener fokus. Jadi produktif, tapi sisa waktunya buat hidup.”

2. Sari (29 tahun): Rapat Zoom dengan Latar Sawah

Sari kerja di HR company multinasional. Setiap bulan, dia harus ke luar kota buat urusan rekrutmen. Dulu, abis urusan kerja, dia langsung balik. Nggak pernah eksplor.

Sekarang, dia terapin bleisure.

“Misal gue ada dinas ke Bandung 2 hari. Abis itu, gue ambil cuti 2 hari, tapi nggak pulang. Gue sewa penginapan di Lembang. Hari pertama dinas, hari kedua kerja remote dari penginapan, hari ketiga liburan total, hari keempat balik.”

Momen favorit Sari? Pas rapat Zoom dengan tim, dia sengaja nyalain kamera. Latar belakangnya sawah hijau. Rekan kerjanya pada iri. “Lo di mana? Liburan?” Sari cuma senyum. “Ini bleisure, guys.”

“Lucunya, pas rapat itu, gue lebih fokus daripada rapat biasa. Mungkin karena suasana adem, atau karena gue tahu abis ini gue bisa jalan-jalan. Jadi kerjaannya cepet kelar.”

3. Rio & Tari (31 & 29 tahun): Bleisure Bareng Pasangan

Rio dan Tari kerja di perusahaan beda, tapi sama-sama punya fleksibilitas remote. Mereka punya ritual: tiap 3 bulan sekali, ambil 4 hari libur, tapi ditambah 2 hari kerja remote dari tempat liburan.

“Kita sewa villa di Puncak seminggu. Senin-Jumat: Rio kerja pagi, Tari kerja pagi, siang kita quality time. Sabtu-Minggu: liburan total, nggak ada kerja. Jadi dalam seminggu, kita dapet 5 hari kerja (tapi kerjaannya cuma 4 jam per hari) dan 2 hari libur total. Efektif banget.”

Tari nambahin: “Yang penting komitmen. Pas jam kerja, kita kerja beneran. Nggak godaan buat main. Pas udah selesai, laptop ditutup, HP disimpan, kita jadi turis.”

Hasilnya? Hubungan mereka makin erat, kerjaan tetap beres, dan tabungan nggak jebol karena biaya villa dibagi dua.


Tapi… Bleisure Nggak Semudah Itu

Ngomongin [Keyword Utama: Tren “Bleisure” Makin Ngetrend] ini asyik, tapi gue harus kasih tahu realitanya. Banyak yang gagal karena salah strategi.

Common Mistakes Pelaku Bleisure Pemula:

1. Nggak Punya Batasan Jelas
Ini paling fatal. Niatnya kerja pagi, tapi karena enak, kerja terus sampai sore. Akhirnya liburan nggak keurus. Atau sebaliknya: niatnya liburan, tapi kerjaan nggak selesai, malah stress. Batasin waktu kerja dengan tegas. Pilih jam tertentu, di luar jam itu, laptop mati.

2. Pilih Lokasi yang Salah
Kerja di pantai? Suara ombak enak, tapi panas, silau, dan pasir masuk laptop. Kerja di kafe ramai? Bikin fokus buyar. Pilih lokasi dengan infrastruktur kerja memadai: WiFi kencang, colokan listrik, meja nyaman, dan suasana yang mendukung fokus.

3. Lupa Zona Waktu
Ini jebakan buat yang kerja remote dengan tim beda waktu. Lo liburan di Bali, tim di Jakarta, client di luar negeri. Bisa kacau. Hitung perbedaan waktu sebelum booking. Pastikan lo bisa meeting di jam yang sama.

4. Overestimasi Produktivitas
“Ah, 3 jam sehari cukup.” Tapi pas di lapangan, ternyata butuh 5 jam. Akibatnya, waktu liburan kepotong. Rencanakan dengan realistis. Hitung rata-rata kerja lo per hari, tambahin buffer 1 jam, baru tentukan jadwal.

5. Lupa Izin Kantor/Atasan
Bleisure itu abu-abu. Nggak semua kantor punya kebijakan jelas. Jangan sampai lo dianggap bolos atau curang. Komunikasikan dengan atasan. Jelaskan rencana lo, jamin kerjaan tetap beres. Biasanya mereka oke kalau performa lo baik.

6. Boros Karena “Lagipula Lagi Liburan”
Mentalitas “lagipula lagi liburan” bikin pengeluaran membengkak. Padahal lo tetep kerja, tapi ngeluarin uang kayak turis. Buat budget khusus. Pisahkan biaya akomodasi (yang bisa dianggap sewa tempat kerja) dan biaya liburan.


Data (Fiktif) yang Mungkin Bikin Lo Tertarik

Indonesian Work-Life Balance Community (2026) punya survei:

  • Rata-rata durasi bleisure: 5-7 hari (termasuk akhir pekan).
  • Tambahan biaya yang dikeluarkan: Rp 2-5 juta (di luar akomodasi kerja, biasanya akomodasi diperpanjang).
  • 73% pelaku bleisure mengaku lebih produktif daripada di kantor.
  • 68% mengaku lebih kreatif karena suasana baru memicu ide.
  • 52% bilang bleisure memperbaiki hubungan dengan pasangan/teman karena quality time meningkat.
  • Sisi negatif: 31% mengaku kelelahan karena nggak bisa benar-benar lepas dari kerja.

Artinya? Bleisure itu seni. Nggak semua orang bisa. Tapi kalau lo bisa, manfaatnya besar.


Tips Praktis: Bleisure buat Pemula

Buat lo yang pengen coba, nih panduan step-by-step:

1. Pilih Tujuan dengan Bijak
Cari tempat yang punya:

  • WiFi stabil (cek review)
  • Colokan listrik di dekat tempat kerja
  • Suasana yang mendukung fokus (nggak terlalu rame, nggak terlalu sepi)
  • Aktivitas liburan menarik di sekitar

2. Atur Jadwal Kerja-Jelas
Misal:

  • 06.00-08.00: Kerja (kalau lo morning person)
  • 08.00-10.00: Sarapan dan jalan pagi
  • 10.00-12.00: Kerja lanjutan
  • 12.00-17.00: Liburan total
  • 17.00-19.00: Istirahat/mandi/makan
  • 19.00-21.00: Kerja lagi (kalau perlu)

Sesuaikan dengan ritme lo sendiri. Yang penting ada blok waktu khusus kerja dan khusus liburan.

3. Siapkan Perlengkapan Dual-purpose
Bawa:

  • Laptop ringan (jangan gaming)
  • Power bank besar
  • Kabel extension (colokan sering jauh)
  • Headset noise-cancelling (buat meeting di tempat rame)
  • Baju kerja dan baju liburan (pisahin biar mood beda)

4. Komunikasi dengan Tim
Kasih tahu jadwal lo ke tim. “Jam 9-12 saya online, di luar itu urgent banget baru chat.” Ini mengelola ekspektasi mereka.

5. Matikan Notifikasi Pas Liburan
Pas jam liburan, notifikasi kerja dimatiin. Iya, beraniin. Kalau urgent, mereka bisa telepon. Tapi percaya deh, 90% hal nggak se-urgent itu.

6. Evaluasi Setelahnya
Abis bleisure, tanya diri sendiri: kerjaan beres? liburan nikmat? capek nggak? Kalau oke, ulangi. Kalau nggak, evaluasi dan perbaiki.